TERAS DR. ARI

The Sonic Bridge Between Tradition and Innovation

Ari J. Palawi

10/31/20269 min read

FANIORA: GAGASAN YANG MENOLAK LOGOUT

Hikayat orang-orang yang membangun fakultas sebelum gedungnya ada

Darussalam–Banda Aceh, 2014–2015
Catatan cerita

Semua tokoh dalam kisah ini adalah orang nyata. Nama mereka disamarkan melalui perubahan kecil, tanpa menghilangkan karakter dan jejak peran masing-masing. Tempat, tanggal, lembaga, dan peristiwa merujuk pada arsip percakapan Satgas Persiapan Fakultas Seni dan Humaniora Universitas Syiah Kuala. Narasi dan dialog merupakan rekonstruksi sastra atas dokumentasi tersebut. Pantun, syair, dendang, dan didong merupakan gubahan artistik untuk merawat semangat serta nilai pengetahuan dalam kisah ini.

Sebelum Gedung, Ada Gagasan

Ada fakultas yang lahir dari gedung. Ada pula yang lebih dahulu lahir dari kegelisahan.

Faniora termasuk yang kedua.

Pada 2014, di Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh, sekelompok orang sedang mengerjakan sesuatu yang belum memiliki bentuk fisik. Mereka ingin membangun Fakultas Seni dan Humaniora. Belum ada gedung khusus. Belum ada mahasiswa yang mendaftar. Bahkan, kepastian kelembagaannya pun masih harus diperjuangkan.

Tetapi gagasannya sudah bergerak.

Jejaknya telah dimulai sejak keputusan Rektor tahun 2012 dan revisinya pada 2013. Seminar, pertemuan, penjajakan, dan diskusi telah berlangsung. Pusat Seni Unsyiah ikut menopang proses tersebut.

Kini, pekerjaan memasuki babak yang lebih serius.

Bukan lagi sekadar membicarakan perlunya fakultas baru. Mereka harus menyiapkan manusia, program studi, kurikulum, jejaring, pembiayaan, dan seluruh perangkat akademiknya.

Mereka membutuhkan sesuatu yang lebih kuat daripada semangat.

Mereka membutuhkan desain kelembagaan.

Sabtu, 8 November 2014, sejumlah pelaksana, narasumber, dan pembina Satgas bertemu di Canai Mamak, Banda Aceh. Pertemuan itu menjadi titik konsolidasi penting.

Dua pekan kemudian, Ari J. Palawa mengirimkan pembaruan melalui grup Facebook Satgas Faniora. Komunikasi sudah berjalan melalui telepon, email, BBM, WhatsApp, dan media sosial. Grup tersebut telah menghimpun 409 anggota.

Bayangkan. Tahun 2014. Belum ada ekosistem kolaborasi digital semasif hari ini. Namun mereka sudah mempraktikkan kerja lintas ruang.

Satu orang mengirim dokumen. Yang lain mengoreksi. Seseorang menawarkan jaringan. Seseorang lagi bertanya dengan tajam. Gagasan beredar. Kritik masuk. Diskusi kadang serius, kadang jenaka.

Sebuah fakultas sedang dibangun melalui percakapan.

Belum ada gedung. Tetapi sudah ada traffic.

Mencari Manusia, Bukan Sekadar Mengisi Formasi

Ari J. Palawa memulai dari persoalan paling mendasar: siapa yang akan mengajar?

Tidak masuk akal membuka program studi tanpa menyiapkan tenaga pendidik. Maka, Satgas mulai menjajaki kerja sama dengan LPSDM Aceh untuk menghimpun alumni penerima beasiswa yang berpotensi menjadi dosen.

Nama-nama dari LPDP, Beasiswa Unggulan Dikti, Fulbright, IIEF, Ford Foundation, dan berbagai program beasiswa lainnya ikut masuk dalam radar.

Iswama, Tri Supami, dan Linawati mendapat perhatian dalam koordinasi penghimpunan sumber daya manusia.

Mereka menyiapkan formulir, lembar motivasi, persyaratan, dan rancangan skema pendidikan lanjutan. Calon dosen harus dipetakan. Kualifikasinya diperiksa. Bidang keilmuannya disesuaikan dengan kebutuhan program studi.

Ari tidak ingin sekadar mengumpulkan nama.

Ia ingin membangun pasokan pengetahuan.

Di sinilah perbedaan antara membuka program studi dan membangun institusi mulai terlihat.

Program studi memerlukan dosen. Tetapi fakultas yang sehat membutuhkan komunitas akademik. Ia memerlukan orang-orang yang dapat mengembangkan penelitian, menyusun kurikulum, membimbing mahasiswa, menciptakan karya, dan membangun percakapan intelektual.

Taufik Abdul Gani mengingatkan agar rencana Ilmu Perpustakaan tidak dilupakan. Unsyiah memiliki perpustakaan yang seharusnya didukung oleh sumber daya manusia dan pengembangan keilmuan yang memadai.

Cut Dira mempertanyakan mekanisme perekrutan alumni luar negeri. Apakah jumlahnya cukup? Bagaimana seleksinya? Apakah kompetensinya sesuai?

Pertanyaan itu bukan penghalang. Justru itulah rem intelektual yang diperlukan agar kendaraan tidak melaju tanpa arah.

Ari kemudian menghubungkan kebutuhan tersebut dengan jejaring akademik. Ada peluang bekerja sama dengan ISI Yogyakarta, UGM, UI, USU, IKJ, dan sejumlah universitas lainnya.

Satu prinsip terus ia pegang: jangan sekadar menyalin program studi dari kampus lain. Namun, jangan pula menciptakan perbedaan hanya demi terlihat unik.

Faniora harus memiliki karakter sendiri. Berstandar global, tetapi berakar pada Aceh.

Sebuah gagasan yang sederhana untuk diucapkan, tetapi tidak sederhana untuk dikerjakan.

Perdebatan yang Membuat Gagasan Tetap Waras

Desember 2014. Percakapan mulai panas.

Salih Syafei mengingatkan bahwa dukungan pimpinan universitas harus dibuktikan secara nyata. Jangan hanya membaca kehadiran nama dalam kepanitiaan sebagai jaminan komitmen.

Saiful Madi menanggapi dengan gaya kritisnya. Kolaborasi harus diuji. Kehadiran orang dalam daftar belum cukup menjadi bukti keberhasilan.

Keduanya membawa diskusi ke persoalan yang lebih luas: kualitas pendidikan tinggi, kepemimpinan, kapasitas fakultas, dan tanggung jawab kelembagaan.

Kismal Abdul Mutalib mengingatkan bahwa fakultas baru tidak perlu dibangun dengan merendahkan fakultas yang sudah ada.

Saiful mengajukan kritik tentang mutu, beban mengajar, dan kebiasaan lama. Salih berbicara tentang capacity building serta kepemimpinan demokratis.

Bahkan, diskusi sempat melebar ke kemacetan Jembatan Lamnyong.

Saiful memakai analogi yang menarik. Menambah jalan dan jembatan tidak selalu menyelesaikan kemacetan. Jika jumlah kendaraan terus bertambah, masalah akan datang lagi.

Ia menawarkan gagasan transportasi massal yang nyaman, terjangkau, ramah anak, perempuan, dan orang tua.

Diskusi itu jauh dari rapat yang hanya berisi persetujuan.

Ada bantahan. Ada humor. Ada ketidaksetujuan. Ada pertanyaan yang membuat orang lain berpikir ulang.

Ari sendiri beberapa kali menanggapi dengan kelakar. Ketika percakapan mulai melebar, ia menarik kembali perhatian kepada Faniora.

Sikap seperti itu penting. Sebuah gagasan membutuhkan keberanian untuk diperdebatkan, sekaligus kedisiplinan untuk kembali ke tujuan.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih artistik.

Bagaimana posisi seni dalam kehidupan akademik?

Ari menyinggung sebuah video penampilan musik dalam acara wisuda Unsyiah. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya urusan hiburan. Namun, bagi penggagas Faniora, persoalannya lebih jauh: apakah universitas telah memahami seni sebagai pengetahuan, atau masih menempatkannya sekadar sebagai pemanis acara?

Di situlah seni dan humaniora mulai memperlihatkan alasan keberadaannya.

Seni bukan ornamen kampus. Seni adalah cara manusia membaca, mengkritik, dan menciptakan kehidupan.

Pantun gubahan

Jalan Lamnyong menuju seberang,
Krueng mengalir membelah kota;
Jangan bangga sekadar berkembang,
Ukur dahulu mutu ilmunya.

Enam Magister, Empat Program Studi, Banyak Pekerjaan

Rapat Canai Mamak telah memberi arah awal.

Desain Interior. Seni Rupa Murni. Sastra Inggris. Sastra Indonesia.

Empat program studi menjadi prioritas yang dibicarakan.

Ari menyampaikan perlunya menghimpun sekurang-kurangnya enam tenaga bergelar magister untuk memenuhi indikator kelayakan yang sedang dipertimbangkan.

Angka enam itu bukan sekadar statistik. Ia berkaitan dengan kelayakan dan keberlanjutan akademik.

Tim harus memeriksa data. Peta tenaga pendidik direvisi. Formulir calon dosen disempurnakan. Borang usulan program studi mulai disiapkan.

Berkas borang bahkan dibagikan pada 20 Desember 2014. Isinya masih kosong. Namun, bagi orang yang sedang membangun sesuatu, lembar kosong bukan selalu tanda ketiadaan. Kadang ia justru peta pekerjaan.

Ari mengusulkan pelibatan mahasiswa, alumni, dan calon tenaga pendidik dalam tim ad hoc. Jangan semua pekerjaan menumpuk pada orang yang sama.

Pada 21 Desember, ia juga mengingat kembali peluang beasiswa sekitar 2011–2012. Ketika itu, ada rencana mengirim sekitar tiga puluh mahasiswa bidang seni ke Taiwan melalui dukungan LPSDM Aceh. Persoalan persyaratan, termasuk TOEFL, menjadi tantangan.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa persiapan SDM bukan pekerjaan semalam.

Ia memerlukan strategi, seleksi, pembiayaan, dan keberanian mengambil keputusan.

Syair gubahan

Mencari ilmu ke rantau jauh,
Membawa pulang bukan gelar semata;
Yang ditanam bukan untuk diri utuh,
Melainkan tumbuh bagi negeri dan bangsa.

Website: Ketika Fakultas Belum Ada, tetapi Sudah Harus Terlihat

Tanggal 24 Desember 2014, Ari mengajukan sebuah gagasan yang terasa sangat relevan dengan zaman sekarang: website khusus Kampus Faniora.

Gagasannya bukan membuat halaman yang sekadar memuat berita.

Website harus bekerja seperti proposal digital.

Ia perlu berbahasa Indonesia dan Inggris. Harus menampilkan apa yang telah dikerjakan, apa yang sedang dipersiapkan, dan apa yang akan dilakukan. Harus memperlihatkan kompetensi para penggagas, keunikan Faniora, karakter pendidikan yang dirancang, jejaring, serta peluang kerja sama dan pendanaan.

Ari juga memikirkan webmaster, domain, dan biaya operasionalnya.

Bukan perkara kosmetik.

Website merupakan instrumen legitimasi. Ia membantu meyakinkan pimpinan universitas, senat, calon mitra, lembaga donor, dan publik akademik.

Hari ini kita menyebutnya branding, visibility, dan digital presence. Pada 2014, Ari sudah memikirkan hal-hal tersebut dalam konteks pembangunan institusi.

Namun, akhir tahun juga membawa kabar kehilangan.

Pada 28 Desember, Aslam Kesuma, salah seorang narasumber senior, dikabarkan meninggal dunia.

Ucapan belasungkawa mengalir.

Di tengah dokumen, formulir, dan rencana, semua orang kembali diingatkan bahwa waktu manusia terbatas. Tidak setiap orang yang memulai pekerjaan akan sempat melihat hasil akhirnya.

Sebuah institusi boleh memiliki target jangka panjang. Tetapi manusia yang mengerjakannya tetap hidup dalam batas usia dan kesempatan.

Jabatan Boleh Berganti, Gagasan Jangan Pensiun

Januari 2015 membawa perubahan.

Muhsin Putra Hadi mengundurkan diri dari posisi sekretaris karena sedang menjalani tugas belajar di ISI Yogyakarta. Ia merasa tidak dapat menjalankan tanggung jawab administratif secara maksimal.

Ari menerima keputusan itu dengan hangat. Ia mengenang sumbangsih Muhsin dalam membangun hubungan, mengurus SK, dan memperkuat komunikasi awal.

Persahabatan tidak berakhir bersama jabatan.

Mirza Hasani, ketua Satgas sebelumnya, juga beralih menjadi narasumber karena tanggung jawab barunya di Fakultas Teknik.

Kismal menyampaikan penghargaan atas peran Mirza dalam menghimpun akademisi dari berbagai universitas serta para pewaris seni budaya Aceh.

Zulfikar Taqi kemudian mengajukan pengunduran diri dari kepanitiaan formal. Ia berharap tim berikutnya lebih solid untuk mengerjakan administrasi dan komunikasi kelembagaan.

Rizani Rosmari juga meminta agar namanya tidak dimasukkan kembali dalam struktur pelaksana karena hendak melanjutkan pendidikan ke Australia. Namun, ia tetap bersedia membantu melalui jejaring internasional.

Semua perubahan itu memberi pelajaran.

Organisasi tidak boleh bergantung pada satu figur. Jabatan harus dapat berpindah. Pengetahuan harus terdokumentasi. Hubungan harus terus dirawat.

Ari kemudian mengusulkan restrukturisasi Satgas. Tim pelaksana perlu lebih ramping. Tugas harus terukur. Tim ad hoc dan sukarelawan perlu diberi ruang.

Ia sedang mengubah organisasi dari kerumunan nama menjadi mesin kerja.

Bukan semua orang harus mengerjakan semuanya.

Setiap orang perlu menemukan posisi yang paling berguna.

Dari Aceh ke Dunia, dari Arsip ke Masa Depan

Pada 24 Maret 2015, grup kembali bergerak.

Namanya berubah menjadi Menuju Kampus Faniora 2016. Anggota baru bergabung. Ari mengirimkan pembaruan dan rancangan pengembangan.

Zulfadli Azim menyatakan kesediaannya membantu penuh.

Pada 27 Maret, sejumlah nama baru diperkenalkan. Ada Taufik Abdul Gani, Nazli Ismail, dan Sofia Kamaruzzaman. Yunardi Yusra dan Jasman Ma'rufi juga bersedia menjadi narasumber.

Jejaring internasional semakin luas.

Made Bandara dan Suasthi Wijaya Bandara, Riza Indara, Rahela Cooper, Teran Bigala, serta Mark Duri termasuk nama-nama yang disebut dalam komunikasi tersebut.

Salah satu kabar paling menarik datang dari Mark Duri. Ia mempersilakan panitia memanfaatkan kumpulan arsip dan rekaman audiovisual hasil penelitiannya sejak dekade 1960-an mengenai kebudayaan dan bahasa Aceh.

Ini bukan sekadar hadiah dokumentasi.

Ini adalah kemungkinan membangun laboratorium pengetahuan berbasis arsip.

Sejarah, bahasa, suara, ingatan, dan kebudayaan dapat diolah menjadi sumber pembelajaran dan penelitian.

Sementara itu, Taufik Abdul Gani menawarkan ruang pertunjukan melalui program Relax and Easy di lantai dua Perpustakaan Unsyiah, setiap Rabu pukul 14.00 WIB.

Sambil menunggu fakultas berdiri, seni sudah mulai mendapat panggung.

Perpustakaan tidak hanya menyediakan buku. Ia membuka ruang bagi pertunjukan, perjumpaan, dan pertukaran pengetahuan.

Inilah Faniora dalam bentuk yang paling menarik: seni tidak menunggu izin untuk hidup.

Dendang gubahan

Dari arsip kita membaca,
Dari bunyi kita mengenali;
Dari karya tumbuh makna,
Dari tradisi masa depan dijajari.

Delapan di Perpustakaan, Dua dari Australia

Sabtu, 18 April 2015.

Lokasinya jelas: Gedung Abdullah Ali, Perpustakaan Universitas Syiah Kuala, lantai tiga, Darussalam, Banda Aceh.

Pertemuan dijadwalkan pukul 11.00 WIB.

Mereka juga menyiapkan Skype melalui akun unsyiahlib agar kolega di luar Banda Aceh tetap dapat bergabung.

Hari itu, delapan orang berkumpul secara fisik. Dua orang mengikuti dari Australia.

Sepuluh kehadiran. Dua ruang geografis. Satu agenda.

Mereka berkenalan, bertukar pengalaman, membicarakan strategi, dan merumuskan koordinasi.

Zulfadli Azim kemudian bersedia menjadi Ketua Kepanitiaan Persiapan Fakultas.

Ari menyampaikan apresiasi kepada semua yang hadir. Kismal diminta merangkum hasil pertemuan.

Catatan tanggal 22 April memperlihatkan empat pokok agenda: perkenalan, pertukaran pengetahuan, formulasi strategi dan koordinasi, serta pemilihan ketua pelaksana harian.

Setiap anggota didorong menemukan ruang kontribusinya sesuai keahlian.

Dukungan pimpinan universitas juga kembali ditegaskan. Bukan hanya dukungan moral. Mereka memerlukan bantuan administratif, komunikasi, keuangan, dan operasional yang transparan.

Tim 9 direncanakan menjadi pelaksana kerja harian.

Target berikutnya: mematangkan proposal program studi untuk diajukan selambat-lambatnya awal Maret 2016.

Namun, jalan masih panjang. SK dan biaya taktis masih membutuhkan proses persetujuan.

Di sini kita dapat membayangkan sebuah didong Gayo. Bukan sebagai pertunjukan yang tercatat pernah berlangsung dalam rapat tersebut, melainkan sebagai penghormatan terhadap tradisi lisan yang mampu merangkum kerja kolektif.

Didong Faniora — Gubahan

Penghela:

Oi, dari pesisir sampai ke dataran tinggi,
Orang berkumpul membawa isi;
Bukan mengejar kursi dan puji,
Tetapi menata rumah ilmu sendiri.

Jawab bersama:

Satu membawa arsip, satu membawa tari,
Satu menjaga sejarah, satu menata teori;
Beda keahlian jangan dipisah-pisah,
Satukan tenaga, buka jalan ilmiah.

Penghela:

Jika ketua berganti, apakah selesai?
Jika kawan pergi belajar, apakah usai?
Jika anggaran belum sampai,
Apakah cita-cita harus bercerai?

Jawab bersama:

Tidak! Jabatan bukan pemilik gagasan.
Tidak! Ilmu bukan milik perseorangan.
Selama ada yang bersedia meneruskan,
Perjuangan menemukan jalan.

9. Jendela Ditutup, Pekerjaan Diteruskan

Tanggal 22 April 2015. Ari mengumumkan bahwa grup diskusi Arts and Humanities akan dibubarkan dalam dua hari.

Sebelum itu, Tim 9 harus menyelesaikan pembagian tugas. Susunan kepanitiaan perlu dirapikan. Nama dan gelar harus diperiksa. Dokumen akan disiapkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Tanggal 24 April, pembaruan terakhir disampaikan.

Kekurangan isian SK telah dilengkapi. Pembagian tugas Tim Pelaksana Kerja Harian sudah dirumuskan. Persetujuan akhir masih ditunggu.

Jendela percakapan akan ditutup.

Tidak ada pengumuman bahwa fakultas sudah berdiri. Tidak ada klaim bahwa seluruh program studi telah disahkan. Tidak semua rencana telah terealisasi.

Arsip berhenti pada fase transisi.

Tetapi jangan keliru membaca akhir percakapan sebagai akhir perjuangan.

Grup boleh ditutup. Pekerjaan harus berpindah ke struktur yang lebih fungsional.

Dari Canai Mamak ke Perpustakaan Abdullah Ali. Dari formulir calon dosen ke rancangan kurikulum. Dari perdebatan akademik ke proposal program studi. Dari jaringan lokal ke arsip internasional.

Itulah perjalanan yang tercatat.

EPILOG: YANG DIBANGUN SEBENARNYA APA?

Faniora bukan sekadar kisah tentang orang-orang yang ingin mendirikan fakultas.

Ini kisah tentang cara berpikir.

Mereka menguji dukungan. Memetakan sumber daya. Memperdebatkan mutu. Menghubungkan jaringan. Menyusun sistem. Mengakui keterbatasan. Menerima pergantian orang. Mencari model keberlanjutan.

Mereka tidak selalu sepakat. Justru itu yang membuat kisah ini menarik.

Seni dan humaniora tidak pernah hidup dari keseragaman. Ia tumbuh dari perjumpaan, pertanyaan, kritik, dan kemampuan membaca manusia dari berbagai sudut.

Ada pelajaran yang patut dibawa ke zaman sekarang.

Pertama, bangun ekosistem sebelum sibuk mempromosikan gedung.

Kedua, jadikan arsip sebagai infrastruktur pengetahuan, bukan sekadar gudang kenangan.

Ketiga, tempatkan seni sebagai praktik berpikir, bukan hiburan pelengkap.

Keempat, rawat kritik sebagai mekanisme kendali mutu.

Kelima, jangan biarkan institusi bergantung pada satu orang. Bangun sistem yang dapat diwariskan.

Dan yang paling penting: jangan mengira kerja intelektual baru dimulai ketika sebuah lembaga diresmikan.

Kadang, institusi sudah mulai hidup jauh sebelum papan namanya dipasang.

Pada 2014–2015, sekelompok orang di Banda Aceh telah menunjukkan hal itu. Mereka membangun rencana, mempertemukan kompetensi, dan menyiapkan perangkat akademik. Mereka meninggalkan jejak percakapan yang kini menjadi arsip sejarah.

Di ujungnya, ada sebuah jendela digital yang ditutup.

Tetapi gagasan tidak harus ikut logout.

Gedung dibangun dengan material. Fakultas dibangun dengan manusia. Peradaban dibangun dengan pengetahuan yang berani diuji, diwariskan, dan diperbarui.

Saleum. Hidup Faniora dalam ingatan, kerja, dan pengetahuan yang diteruskan.

Kontak GSJ

Jalan Krueng Jreu, Gampong Reukih Dayah, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Provinsi Aceh, 23373

Email

admin@geunta.or.id

© 2025. All rights reserved.